Feeds RSS

Sabtu, 10 April 2010

HERNIA


A. PENGERTIAN
Hernia adalah protusio (penonjolan) abnormal suatu organ atau bagian suatu organ melalui lubang (apertura) pada stuktur disekitarnya, umumnya protusio organ abdominal melalui celah dari dinding abdomen. (Sue Hinchliff, 1999 : 206).
Hernia adalah penonjolan dari organ internal melalui pembentukan abnormal atau lemah pada otot yang mengelilinginya. (Winter Griffith, 1997 : 340).
Hernia adalah tonjolan keluarnya organ atau jaringan melalui dinding rongga dimana organ tersebut seharusnya berada yang didalam keadaan normal tertutup. (suster nada, 21 juli 2007).


B. ETIOLOGI
1. Lemahnya dinding rongga perut. Dapat ada sejak lahir atau didapat kemudian dalam hidup.
2. Akibat dari pembedahan sebelumnya.
3. Kongenital
a. Hernia congenital sempurna
Bayi sudah menderita hernia kerena adanya defek pada tempat – tempat tertentu.
b. Hernia congenital tidak sempurna
Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak) tapi dia mempunyai defek pada tempat – tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan ( 0 – 1 tahun) setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan, batuk, menangis).
4. Aquisial adalah hernia yang buka disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi disebabkan oleh fakor lain yang dialami manusia selama hidupnya, antara lain :
a. Tekanan intraabdominal yang tinggi.
Banyak dialami oleh pasien yang sering mengejan yang baik saat BAB maupun BAK.
b. Konstitusi tubuh.
Orang kurus cenderung terkena hernia jaringan ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terkena hernia karena banyaknya jaaringan lemak pada tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong pada LMR.
c. Banyaknya preperitoneal fat banyak terjadi pada orang gemuk.
d. Distensi dinding abdomen karena peningkatan tekanan intraabdominal.
e. Sikatrik.
f. Penyakit yang melemahkan dinding perut.
g. Merokok
h. Diabetes melitus

C. BAGIAN DAN JENIS HERNIA
Bagian – bagian hernia :
1. Kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa, hernia intertitialis.
2. Isi hernia
Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).

3. Pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia.
4. Leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia.
5. Locus minoris resistence (LMR)
Klasifikasi hernia :
1. Menurut lokasinya
a. Hernia inguinalis adalah hernia yang terjadi dilipatan paha. Jenis ini merupakan yang tersering dan dikenal dengan istilah turun berok atau burut.
b. Hernia umbilikus adalah di pusat.
c. Hernia femoralis adalah di paha.
2. Menurut isinya
a. Hernia usus halus
b. Hernia omentum
3. Menurut penyebabnya
a. Hernia kongenital atau bawaan
b. Hernia traumatica
c. Hernia insisional adalah akibat pembedahan sebelumnya.
4. Menurut terlihat dan tidaknya
a. Hernia externs, misalnya hernia inguinalis, hernia scrotalis, dan sebagainya.
b. Hernia interns misalnya hernia diafragmatica, hernia foramen winslowi, hernia obturaforia.
5. Menurut keadaannya
a. Hernia inkarserata adalah bila isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali kedalam rongga perut disertai akibat yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia irrenponibel.
b. Hernia strangulata adalah jika bagian usus yang mengalami hernia terpuntir atau membengkak, dapat mengganggu aliran darah normal dan pergerakan otot serta mungkin dapat menimbulkan penyumbatan usus dan kerusakan jaringan.
6. Menurut nama penemunya
a. Hernia petit yaitu hernia di daerah lumbosacral.
b. Hernia spigelli yaitu hernia yang terjadi pada linen semi sirkularis diatas penyilangan vasa epigastrika inferior pada muskulus rektus abdominalis bagian lateral.
c. Hernia richter yaitu hernia dimana hanya sebagian dinding usus yang terjepit.
7. Menurut sifatnya
a. Hernia reponibel adalah bila isi hernia dapat keluar masuk. Isi hernis keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
b. Hernia irreponibel adalah bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga.
8. Jenis hernia lainnya
a. Hernia pantolan adalah hernia inguinalis dan hernia femuralis yang terjadi pada satu sisi dan dibatasi oleh vasa epigastrika inferior.
b. Hernia scrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke scrotum secara lengkap.
c. Hernia littre adalah hernia yang isinya adalah divertikulum meckeli.

D. PATHOFISIOLOGI
Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke – 8 dari kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan testis itu akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga terjadi tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup, karena testis yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis inguinalis yang kanan lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila kanal terbuka terus, karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital.
Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi kerana usia lanjut, karena pada umur tua otot dinding rongga perut melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi.
Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat seperti batuk – batuk kronik, bersin yang kuat dan mengangkat barang – barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu jaringan tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan dinding rongga yang telah melemas akibat trauma, hipertropi protat, asites, kehamilan, obesitas, dan kelainan kongenital dan dapat terjadi pada semua. Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin.
Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Timbulnya edema bila terjadi obtruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian terjadi nekrosis. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah, konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan, maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan ususnya terputar. Bila isi perut terjepit dapat terjadi shock, demam, asidosis metabolik, abses.
Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Antara lain obstruksi usus sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis.

E. PENATALAKSANAAN
1. Terapi umum
Terapi konservatif sambil menunggu proses penyembuhan melalui proses alami dapat dilakukan pada hernia umbilikalis pada anak usia dibawah 2 (dua) tahun. Terapi konservatif berupa alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset pada hernia ventralis sedangkan pada hernia inguinal pemakaian tidak dianjurkan karena selain tidak dapat menyembuhkan alat ini dapat melemahkan otot dinding perut.
ž Reposisi
Tindakan memasukkan kembali isi hernia ketempatnya semula secara hati – hati dengan tindakan yang lembut tetapi pasti. Tindakan ini hanya dapat dilakukan pada hernia hernia reponibilis dengan menggunakan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan leher hernia sedangkan tangan yang lain memasukkan isi hernia melalui leher hernia tadi. Tindakkan ini terkadang dilakukan pada hernia irreponibilis apabila pasien takut operasi, yaitu dengan cara : bagian hernia dikompres dingin, penderita diberi penenang valium 10 mg agar tertidur, pasien diposisikan trendelenberg. Jika reposisi tidak berhasil jangan dipaksa, segera lakukan operasi.
ž Suntikan
Setelah reposisi berhasil suntikkan zat yang bersifat sklerotik untuk memperkecil pintu hernia.
ž Sabuk hernia
Digunakan pada pasien yang menolak operasi dan pintu hernia relatif kecil.
b. Umumnya tindakkan operatif merupakan satu – satunya yang rasional.
2. Hernioplastik endoscopy
a. Hernia inguinalis
ž Pengobatan konservatif
Terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulata, kecuali pada pasien anak – anak. Reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya kearah cincin hernia dengan tekanan lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi. Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedatif dan kompres es diatas hernia. Bila reposisi ini berhasil anak disiapkan untuk operasi besok harinya. Jika reposisi hernia tidak berhasil, dalam waktu enam jam harus dilakukan operasi segera.
ž Pengobatan operatif
Pengobatan operatif merupakan satu – satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operatif sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniatomy dan herniaraphy.
- Herniotomy
Dilakukan pembebasan kantong hernia sampai kelehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlenketan, kemudian reposisi. Kantong hernia dijahit, ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
- Hernioraphy
Dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
b. Hernia incarserata
ž Tidak ada terapi konservatif untuk hernia jenis ini. Yang harus dilakukan adalah operasi secepatnya.
ž Jenis operasi : herniotomy. Prinsipnya adalah membuka dan memotong kantong hernia kemudian mengeluarkan isi kantong hernia (usus) dan mengembalikannya ke tempat asalnya hingga ileus hilang.
Padaž hernia irreponibils dapat kita perkirakan hal – hal yang akan terjadi pada isi hernia berdasarkan perhitungan waktu yaitu :
a) kurang dari 24 jam setelah diagnosis, dapat di anggap isi hernia baru saja terjepit.
b) 24 – 48 jam isi hernis mulai mengalami ischemia.
c) 48 – 72 jam mulai terjadi ganggren.
d) Lebih 3 hari isi hernia nekrosis.
ž Selain dalam hitungan waktu, keadaan isi hernia dapat dilihat dari :
a) Warna usus (membiru, ischemic atau nekrosis)
b) Penilaian vaskularisasi
Berikan NaCl hangat selama 5 menit pada usus, bila terjadi perubahan warna dari kebiruan menjadi kemerahan, berarti usus masih baik (viable). Bila setelah pemberian NaCl hangat warna usus masih tetap biru berarti usus telah mengalami nekrose (non - viable), harus direseksi secara end to end.
c) Kemampuan peristaltic usus
Bila setelah pemberian NaCl hangat terjadi peristaltic berarti keadaan usus masih baik (viable).
ž Bila keadaan umum pasien baik tetapi ususnya non – viable, maka setelah herniotomy dilakukan reseksi usus non – viable tadi dikeluarkan dan diletakkan di atas paha yang dikenal dengan istilah VORLAGERUNG (letakan di muka / di luar). Dibuat lubang pada usus untuk keluarnya feses. Setelah keadaan umum pasien membaik baru operasi dapat dilanjutkan.
ž Indikasi vorlagerung :
a) usus non – viable
b) KU pasien jelek
c) Narcose yang lama

F. DIET dan AKTIVITY
Aktivity : hindari mengangkat barang yang berat sebelum atau sesudah pembedahan.
Diet : tidak ada diet khusus. Tetapi seetelah operasi diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi. Kemudian makan dengan gizi seimbang. Tingkatkan masukan serat dan tinggi cairan untuk mencegah sembelit dan mengejan selama buang air besar. Hindari kopi, teh, coklat, minumam berkarbonasi, minuman beralkohol, dan setiap makanan atau bumbu yang memperburuk gejala.


G. MEDICATIONS
a. Analgesik
b. Antibiotik untuk membasmi infeksi

H. NURSING MANAJEMENT
1. Pengkajian
a. Data subjektif
- Sebelum operasi
ž Adanya benjolan diselangkangan atau kemaluan
ž Nyeri didaerah benjolan meski jarang dijumpai kalau ada biasanya dirasakan didaerah epigastrium atau dearah paraumbilikal berupa nyeri viseral karena regangan pada mesenterium sewaktu segmen usus halus masuk kedalam kantong hernia.
ž Nyeri yang disertai mual – muntah, kembung.
ž Konstipasi
ž Bayi menangis terus
ž Pada saat bayi menangis atau mengejan dan batuk – batuk kuat timbul benjolan.
ž Pada hernia strangulata suhu badan dapat meninggi atau normal.
ž Pada hernia obturatoria didapat keluhan nyeri seperti ditusuk – tusuk dan parastesia didaerah panggul, lutut, bagian medial paha akibat penekanan pada N. Obturatorius.
ž Riwayat penyakit terdahulu : Riwayat batuk kronis dan tumor intraabdominal, bedah abdominal.
ž Riwayat psikososial : klien merasa terganggu dengan adanya penyakitnya, klien tidak dapat beraktivitas dengan bebas.
ž Riwayat penyakit sekarang : merasa ada benjolan di skrotum bagian kanan atau kadang – kadang mengecil / mneghilang. Bila menangis, batuk, mengangkat benda berat akan timbul benjolan lagi, timbul rasa nyeri pada benjolan dan timbul rasa kemeng disertai mual – muntah.
ž Akibat komplikasi terdapat shock, demam, asidosis metabolik, abses, fistel, peritonitis.
- Sesudah operasi
ž Nyeri didaerah operasi
ž Lemas
ž Pusing
ž Mual, kembung

b. Data objektif
- Inspeksi
ž Hernia reponibel terdapat benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin atau mengedan dan mneghilang setelah berbaring.
ž Hernia inguinal
- Lateralis : uncul benjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral ke medial, tonjolan berbentuk lonjong.
- Medialis : tonjolan biasanya terjadi bilateral, berbentuk bulat.
ž Hernia skrotalis : benjolan yang terlihat sampai skrotum yang merupakan tojolan lanjutan dari hernia inguinalis lateralis.
ž Hernia femoralis : benjolan dibawah ligamentum inguinal.
ž Hernia epigastrika : benjolan dilinea alba.
ž Hernia umbilikal : benjolan diumbilikal.
ž Hernia perineum : benjolan di perineum.
- Palpasi
Caranya :
ž Titik tengah antar SIAS dengan tuberkulum pubicum (AIL) ditekan lalu pasien disuruh mengejan. Jika terjadi penonjolan di sebelah medial maka dapat diasumsikan bahwa itu hernia inguinalis medialis.
Titik yangž terletak di sebelah lateral tuberkulum pubikum (AIM) ditekan lalu pasien disuruh mengejan jika terlihat benjolan di lateral titik yang kita tekan maka dapat diasumsikan sebagai nernia inguinalis lateralis.
ž Titik tengah antara kedua titik tersebut di atas (pertengahan canalis inguinalis) ditekan lalu pasien disuruh mengejan jika terlihat benjolan di lateralnya berarti hernia inguinalis lateralis jika di medialnya hernia inguinalis medialis.
Hernia inguinalis : kantong herniaž yang kosong kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dua permukaan sutera, tanda ini disebut sarung tanda sarung tangan sutera. Kantong hernia yang berisi mungkin teraba usus, omentum (seperti karet), atau ovarium. Dalam hal hernia dapat direposisi pada waktu jari masih berada dalam annulus eksternus, pasien mulai mengedan kalau hernia menyentuh ujung jari berarti hernia inguinalis lateralis dan kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis medialis.
ž Hernia femoralis : benjolan lunak di lipat paha dibawah ligamentum inguina dan lateral tuberkulum pubikum.
ž Hernia inkarserata : nyeri tekan.
- Perkusi
Bila didapatkan perkusi perut kembung maka harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata. Hipertimpani, terdengar pekak,
- Auskultasi
Hiperperistaltis didapatkan pada auskultasi abdomen pada hernia yang mengalami obstruksi usus (hernia inkarserata).
- Colok dubur
Tonjolan hernia yang nyeri yang merupakan tanda Howship – romberg (hernia obtutaratoria).
- Pemeriksaan test diagnostik : rongent, USG.
- Tanda – tanda vital : temperatur meningkat, pernapasan meningkat, nadi meningkat, tekanan darah meningkat.
- Hasil laboratorium
ž Leukosit > 10.000 – 18.000 / mm3
ž Serum elektrolit meningkat.

2. Diagnosa
a. Nyeri akut b/d agen injuri (biologi, kimia fisik, psikologis).
NOC :
- Mengenali faktor penyebab
- Mengenali lamanya onset sakit
- Mengunakan metode pencegahan non analgesik untuk mengatasi nyeri
- Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan
- Mencari bantuan tenaga kesehatan
- Melaporkan gejala kepada petugas kesehatan
- Menggunakan sumber – sumber yang tersedia
- Mengenali gejala – gejala nyeri
- Mencatat pengalaman tentang nyeri sebelumnya
- Melaporkan nyeri yang sudah terkontrol

Keterangan penilaian NOC :
- Tidak dilakukan sama sekali
- Jarang dilakukan
- Kadang dilakukan
- Sering dilakukan
- Selalu dilakukan
NIC
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
- Observasi reaksi non verbal dan ketidaknyamanan.
- Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeeri pasien.
- Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri.
- Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau.
- Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan.
- Kontrol lingkungan yang dapat menpengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan.
- Kurangi faktor presipitasi nyeri.
- Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non – farmakologi, dan interpersonal).
- Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.
- Ajarkan tentang tehnik non – farmakologi.
- Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
b. Defisit volume cairan b/d kehilangan volume cairan secara aktif.
NOC
Indikator :
- Tekanan darah dalam batas normal.
- Rata – rata tekanan arteri dalam batas normal.
- Tekanan vena sentral dalam batas normal.
- Tekanan paru – paru dalam batas normal.
- Nadi perifer teraba.
- Tidak ada hipertensi ortostatik
- Keseimbangan intake dan output selama 24 jam.
- Tidak ada suara napas tambahan.
- Berat badan stabil.
- Tidak ada mata cekung
- Tidak ada kebingungan
- Tidak haus berlebihan
- Kelambaban kulit dalam batas normal
- Elektrolit serum dalam batas normal
- Nilai hematokrit dalam batas normal
- BJ urin dalam batas normal
Keterangan penilaian NOC :
- Tidak dilakukan sama sekali
- Jarang dilakukan
- Kadang dilakukan
- Sering dilakukan
- Selalu dilakukan
NIC
- Monitor berat badan setiap hari
- Pertahankan intake dan output yang akurat
- Monitor status hidrasi (membran mokusa) yang adekuat
- Monitor status nutrisi
- Monitor intake dan output.

c. Resiko infeksi b/d trauma, kerusakan jaringan.
NOC :
Indikator :
- Mengetahui resiko.
- Memonitor faktor resiko lingkungan.
- Memonitor resiko dari tingkah laku.
- Mengembangkan kontrol resiko secara efektif.
- Memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko menggunakan. dukungan personal untuk mengontrol resiko.
- Berpartisipasi dalam screening untuk mengidentifikasi resiko.
- Memonitor perubahan status kesehatan.
Keterangan penilaian NOC :
- Tidak dilakukan sama sekali
- Jarang dilakukan
- Kadang dilakukan
- Sering dilakukan
- Selalu dilakukan
NIC:
- Observasi dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan, panas, nyeri, tumor, dan adanya fungsiolaesa.
- Kaji temperatur klien tiap 4 jam.
- Catat dan laporkan nilai laboratorium (leukosit, protein, serum, albumin).
- Kaji warna kulit, kelembaban tesktur, dan turgor.
- Gunakan strategi untuk mencegah infeksi nosokomial.
- Tingkatkan intake cairan.
- Istirahat yang adekuat
- Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
- Gunakan standard precaution dan gunakan sarung tangan selama kontak dengan darah, membran mukosa yang tidak utuh.
- Ikuti transmisi pencegahan dasar untuk udara, droplet, dan kontak – kontak tranmitted microorganisme.
- Ganti IV line sesuai dengan aturan yang berlaku.
- Pastikan perawatan aseptik pada IV line.
- Pastikan tehnik perawatan luka secara tepat.
- Dorong pasien untuk istirahat.
- Berikan terapi antibiotak sesuai instruksi.
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda – tanda gejala infeksi dan kalau terjadi untuk melapor kepada perawat.

Sabtu, 03 April 2010

ARTERI RENAL STENOSIS

A. Definisi penyakit
- Arteri renal stenosis (ARS) adalah terhambatnya atau tersumbatnya suplay darah di arteri yang menuju ke ginjal, biasanya di sebabkan arterosklerosis (vibromaskular displasma) pada dinding arteri atau adanya formasi skar di arteri. ( www.about.com).
- ARS adalah gangguan aliran darah menuju ginjal paling sering di sebabkan oleh arterosklerosis, vibromaskular displasia, gangguan arteri renal ini bias berakibat terhambatnya atau berkurangnya aliran darah menuju ginjal, hypertensi dan atrofi pada renal dapat di sebabkan oleh ARS, lebih lanjut dapat menyebabkan gagal ginjal bila tidak ditangani. (www.Wikipedia.com).
- ARS adalah gangguan pada satu atau dua arteri yang membawa suplay darah ke dua ginjal, renal maksudnya ginjal dan stenosis artinya penyempitan. ARS bias menyebabkan tekanan darah meningkat dan terganggu fungsi ginjal. ARS lebih sering menjadi penyebab hypertensi. (www.emedicine.com).

B. Etiologi
1. penyebab paling dominan arterosklerosis, biasanya pada usia 50 tahun keatas
2. Pada yang lebih muda di bawah 40 tahun kebanyakan di temukan pada wanita dengan vibromaskular displasia
3. Arteritis
4. Renal arteri anurisme
5. Ekstrinsik (karena tekanan dari luar)
a. Neoplasma
b. Neurofibromatosis
c. Trauma (fibrous bands) trauma internal bleding, pembentukan fibrous
( www.about.com)

C. Epidemiologi
Fibrodisplasia penyebab ARS sering terjadi pada wanita usia 20 tahun sampai 50 tahun. Penyakit vascular yang berhubungan dengan ginjal kurang dari 1% dari semua kasus hipertensi. Pada orang-orang yang sudah menderita tekanan tekanan darah tinggi atau memiliki resiko tinggi penyakit vascular yang berhubungan dengan ginjal adalah penyebab 10% sampai 40% dari semua penyakit. Di A,merika serikat 1-10% atau 50 juta orang menderita hipertensi akibat renovaskular, sedangkan arterosklerosis banyak di derita oleh pria tua terutama perokok, dan biasanya mengenal 1/3 proksimal arteri renalis di dekat aorta di temukan pada wanita usia tua dengan serum creatinin yang meningkat.
Pda tahun 1964 Holley melaporkan tingkat ARS adalah 27% dalam 258 kasus yang mempunyai riwayat hipertensi , dan 17% pada pasien yang memiliki tekanan darah normal, diantara mereka yang berusia lebih dari 70 tahun sebanyak 62% menderita ARS. (www.about.com).
D. Pathofisiology
Pada pasien dengan ARS di mulai dengan kerusakan endothelium yang tidak bersih yang di sebabkan seperti dislipidemia, rokok, hypertensi, diabetes mellitus, imun injury, dan bertambahnya kepekatan cairan bias menambah kerusakan endothelium pada kasus arterosklerotik. Permeabilitas endothelium terhadap plasma makromulekul (ex: LDL) bertambah, sel endothelium menurun dan bertambahnya sel otot dan bertambahnya makrofag pada intima, jika arterogenic lipoprotein pada level yang krisis pada mekanisme ke depan akan di dapat penggumpalan lipoprotein dari daerah tersebut yang akan menimbulkan lesi ateromatus (arteri yang rusak pada dinding dan intima)
Aliran darah ke ginjal 3 sampai 5 kali kekuatan perfusi pada ginjal di banding kan organ lain, ini disebabkan oleh filtrasi kapiler pada glumerulus, tekanan hidrotatik dan aliran darah pada kedua kapiler glumerulus sangat penting dalam menentukan Glumerulus Filtrat Rete (GFR).
Pada pasien ARS adanya ischemia cronis yang di sebabkan oleh aliran darah ke ginjal yang tersumbat membuat perubahan pada ginjal terutama jaringan tissue pada tubular, perubahan-perubahan tersebut termasuk juga atropi pada kapiler glumerulus, tubulus sclerosis, terjadi perubahan di kapsul bowman arteri medial intra renal, pada pasien ARS , GFR tergantung pada angiotensin II dan modulator lain yang ikut mempertahankan system regulasi antara arteri afferent dan efferent , kegagalan mempertahankan GFR jika tekianan perfusi ginjal di bawah 70-85 mmHg , gangguan fungsi pada autoregulasi bias menyebabkan kerusakan arteri suplay 50 % (www.emidicine.com).

E. Tanda dan Gejala :
Kebanyakan dari kasus ARS adalah asymptomatic, masalah utama tekanan darah meningkat yang tidak dapat di control dengan obbat-obatan, perkembangannya fungsi kedua ginjal dapat menjadi sangat kekurangan suplay darah atau ketika di beri obat dengan ACE inhibitor, beberapa pasien akan mengalami pulmonary edema (gagal jantung pada ventrikel kiri yang mendadak).
Ada abdominal bruits, nyeri pada area flank setiap berjalan, dan urine spesifik grafity meningkat. (www.emidicine.com).

F. Diagnostik Test
1. Laboratorium
a. Tingkat serum creatinine untuk menilai gangguan fungsi renal, dapat dijadikan tolak ukur dasar untuk mengkalkulasi berdasarkan pada cockroft-Gault
b. Pemeriksaan urin 24 jam untuk menilai tingkatan gangguan fungsi ginjal untuk mengukur tingkat derajat protein uri, dimana pada gangguan nefrotik jarang
c. Pemeriksaan urin untuk melihat adanya sel darah merah yang menandakan glumerulonefritis
d. Test Serologic untuk systemic Lupus Erythematosus atau vaskulitis jika kondisi-kondisi ini disarankan.
e. Studi untuk menilai Renin Angiostensin System adalah test diagnostic pada pasien dengan arterosklerosis
f. Aktivitas feripheral rennin pada individu yang sehat menjadi bahan pikiran penyebab.

2. Pemeriksaan Pencitraan
a. USG /Ultrasound
a) Kelainan ultrasound bias menampilkan gangguan ginjal pada pasien.
b) USG hanya menampilkan dari organ, bukan test fungsi dari ginjal.
c) Hanya memberi kontribusi pada kasus ARS ini melalui ukuran ginjal.
b. Radionuclide Scanning (RS)
a) Dengan menggunakan RS dengan dosis tunggal captopril pada pasien yang masih normal fungsi renalnya, namun dicurigai adanya penyakit fibromuskular.
b) Pada pasien dengan ischemic nefropathy (serum creatinine >2 mg/dl) yang sering berkaitan dengan penyakit parenchyma ginjal atau vascular dengan pemeriksaan lain sulit dibedakan apakah penyakit parenchyma atau nefropathy (ARS/ ischemic).
c. Duplex Ultrasoun Scanning
a) Tehnik diagnostic non invasive, kombinasi antara B- ultrasound dengan dopler untuk melihat kecepatan arus.
b) Tehnik diagnostic non invasive yang relative murah dan dapat di gunakan pada pasien dengan semua tingkatan fungsi ginjal.
c) Test ini sangat sensitive dan spesifik (98%) memerlukan SDM yang terlatih , makanya USG duplex ini mungkin tidak selalu tersedia di fasilitas center.
d. Spiral CT angiography
a) Tehnik ini menggunakan zat kontras iodine dengan dosis besar yang disuntikan IV dan di tampilkan dengan pencitraan 3 dimensi yang menampilkan arteri renal.
b) Tahun 1995, Olbricht membandingkan antara CT angiography dengan digital angiography untuk mendeteksi gangguan arteri renal yang lebih 50%, CT angiography dapat menunjukkan hasil positive dan predictive negative sampai 91%.
c) Spiral CT angiography menggunakan tehnik tanpa caterisasi dan prosedur ini dapat dengan akurat menunjukkan anatomi renal arteri, tehnik ini menunjukken dari penusukan arteri, resiko emboli.
e. Magnetic resonan angiography (MRA)
a) Ialah tehnik non invasif yang mampu menunjukkan anatomi vascular dan informasi fisiologi dari fungsi renal, tehnik ini mampu menvisualisasi langsung arteri tanpa zat kontras, laju aliran darah, GFR, dan perfusi. MRA masih mahal, kontra indikasinya clips metallic, pacemaker, intra ocularmetalic, atau implant lainnya.
b) Tehnik ini valit hanya pada stenosis proksimal 3-3,5 cm arteri renal, bagian distal dan beberapa bagian ARS tidak dapat di deteksi, kepekaan MRA untuk bagian proksimal 90%, 82% untuk ARS yang utama, 0% untuk segmental stenosis.
f. Conventional arteriography
a) Tehnik ini standar untuk konfirmasi dan identifikasi arteri renal, oklusi pada pasien dengan IRD, spesialis dapat melakukan renal arteriography dengan konvensional aortography, IV angiography intra arterial angiography atau carbondioxide angiography.
b) Konvensional aortography dapat menghasilkan gambaran arteri renal dengan tepat, dengan cara penusukan arteri, resiko emboli lemah, dan resiko zat kontras dapat menyebabkan acute tubular necrosis (ATN).
c) Carbon dioxide angiography adalah angiography alternative yang menggunakan kombinasi digital yang mencegah dari efek zat kontras pada pasien gangguan ginjal yang parah.
g. Contrast nephrotoxicity
a) Pasien dengan iskemik nepropathy biasanya progressive (misalnya cronik renal failure) sangat beresiko terhadap kontras nefrotoxicity.
b) Kontras nefropathy biasanya di tandai dengan kenaikan serum creatinine 3-6 hari sesudah di kontras dan dilaporkan 40% gagal ginjal.
c) Kebanyakan pasien dengan kontras nepropathy dapat memulihkan fungsi ginjalnya, 10% pasien memerlukan dialisis permanen.
h. Selection of diagnostic tests
a) Pasien dengan resiko tinggi ARS, pemilihan dignostik test yang paling baik masih kontraversi.
b) Identifikasi pasien dengan renovaskular hipertensi sulit di deteksi dengan tehnik non invasive (missal:USG), karena secara tidak langsung adanya lesi arteri renal.
c) Pada sisi lain, prosedur infasif lebih akurat namun resiko toxicity kontras dan komplikasi yang berhubungan dengan prosedur tersebut (mis: penusukan arteri, emboli arteri).
d) Keuntungan angiography konvensional selain untuk dignostik yang dapat bersamaan dengan dilakukannya therapy endomascular.
Spesialisasi dalam menentukan test diagnostic yang mempertimbangkan besarnya biaya, factor resiko, penggunaan MRA dapat di pertimbangkan, jadi dalam penentuan dignostik test dilihat lagi metode paling sesuai.

G. Treatment
Semua pasien (>80%) bilateral stenosis dan stenosis tunggal mempunyai kesempatan untuk di revaskularisasi tanpa memandang tingkat keparahannya
1. Jika fungsi renal masih normal atau mendekati normal, spesialis menganjurkan Revaskularisasi dengan criteria:
a. Derajat stenosis lebih 50-85%.
b. Derajat stenosis lebih 50-80% dan captopril scintigraphy tampak aktivitas intra renal (ARS).
2. Spesialist mengobservasi Renovaskularisasi (serial control tiap 6 bulan dengan doplex scanning, akurat untuk memblok penggumpalan), yang mana pasien mempunyai criteria:
a. Stenosis 50-80%, dan pada pemeriksaan scintigraphy negative.
b. Derajat stenosis kurang dari 50%.
3. Jika gangguan renal jelas, nyata, pemulihan fungsi ginjal bersamaan dengan pencegahan bertambahnya penurunan funfsi, sebelum dilakukan Revaskularisasi, lihat apakah:
a. Serum creatinine di bawah 4 mg/dl.
b. Serum creatinine di atas 4 mg/dl tapi pada arteri renal baru.
c. Jika kondisi-kondisi tambah parah, penulis menganjurkan Revaskularisasi
a) Derajat stenosis lebih 80%.
b) Level serum creatinine bertambah setelah mendapat ACE inhibitor.
c) Derajat stenosis 50-80% dan pada pemeriksaan scintigraphy positive.
4. Treatment konservatif pada pasien dengan diagnosis IRD yang tidak stabil, dengan kontraindikasi obselut terhadap pembedahan atau angiography, atau pasien yang kondisinya menuju ketahap gagal ginjal yang di sebabkan oleh IRD. Dokter harus memberi obat kombinasi calsium chanal blokers untuk mengontrol tekanan darah dan perbaikan ferpusi ginjal. Diharapkan dengan itu bias memperbaiki fungsi ginjal dan bertahan walaupun jangka pendek.

H. Surgical Care
1. Revaskularisasi
a. Bila arteri renal di duga tersumbat total.
b. Jika di duga pengembalian fungsi ginjal berhasil dengan kriteria :
a) Cirkulasi Collateral dan neprhogram pada angiography terlihat.
b) Panjang ginjal sampai dengan 9 cm.
c) Differential konsentrasi urine pada pemeriksaan urin split function.
d) Kembali dengan spontan setelah arteriotomy paska bedah.
e) Berfungsinya nepron setelah biopsi.
c. spesialisasi menganjurkan nephroctomy jika yang kena hanya satu ginjal.
2. Percutaneus Transluminal Angioplasty
a. Untuk melebarkan lumen artery.

I. Medication
1. Anti hipertensi therapy yang kuat untuk mengendalikan hipertensi.
2. Obat-obat beta blokers atau angiotensin converting enzyme inhibitor di berikan.
3. Analgesic di berikan untuk mengurangi nyeri karena penyempitan atau penyumbatan vascular.
4. Untuk mencegah pulmunary embolism di berikan anti coagulant.

J. Activity
Gerak badan aerobic secara teratur dianjurkan karena bisa membantu mengurangi berat badan bagi pasien obesitas dan resiko penyakit jantung. Akan tetapi gerak badan yang melelahkan seperti angkat besi atau gerak badan yang menyangkut manuver’s lebih baik di hindarkan.

K. Health Education
1. Modifikasi diet : makanan rendah cholesterol dan rendah garam.
2. Gerakan badan aerobic secara teratur.

3. Cara mengukur tekanan darah dan artinya.
4. Efek samping dari Anticoagulant therapy.

II. NURSING MANAGEMENT

A. Assesment
1. Subjektive Data :
a. Nyeri pada area flank setiap berjalan.
b. Kurangnya urin output.
c. Ada riwayat arterosklerosis, merokok, DM, hipertensi, arteritis, arteri renal anurism.
d. Cemas.

2. Objective Data
a. Adanya abdominal bruits.
b. Hipertensi.
c. Edema.
d. Urine spesifik gravity meningkat.
e. Pemeriksaan diagnostik test yang di lakukan positive.

B. Nursing Diagnosa
1. Penurunan perfusi jaringan b/d penyempitan arteri sekunder terhadap ARS.
2. Nyeri akut b/d ischemia jaringan sekunder terhadap penurunan suplai darah ke ginjal.
3. Kelebihan volume cairan b/d kerusakan fungsi ginjal.
4. Cemas b/d status kesehatan.

C. Nursing Intervention
1. Diagnosa 1
a. Observasi tanda-tanda vital (BP, pols, resp).
b. Pantau terus fungís ginjal.
c. Berikan oksigen sesuai order dokter.
d. Monitor denyut perifer, edema, waktu pengisian kapiler, warna dan suhu ekstremitas .
2. Diagnosa 2
a. Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan.
b. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau.
c. Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidak efektifan control nyeri masa lampau.
d. Control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan.
e. Tingkatkan istirahat.
f. Pili dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan Inter. Personal).
g. Kolaborasi dengan dokter jira ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil.
3. Diagnosa 3
a. Monitor BB tiap hari.
b. Ukur peningkatan BB.
c. Pertahankan catatan inteke dan output cairan selama 24 jam, balance cairan.
d. Monitor status hidrasi (membran mucosa, nadi, tekanan darah orthostatik).
e. Monitor hasil laboratorium yang berhubungan dengan retensi cairan.
f. Kaji lokasi edema.
g. Kelola pemberian diuretik (kolaborasi).
h. Monitor status nutrisi.
i. Monitor status hemodinamik.
4. Diagnosis 4 :
a. Penurunan kecemasan.
a) Tenangkan klien
b) Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat melakukan tindakan
b. Berusaha memahami keadaan kliea.
c. Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis dan tindakan.
d. Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan.
e. Pengurangan Kecemasan.
f. Ajarkan pada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan untuk mengeksternalisasikan kecemasan.
g. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
h. Sarankan terapi alternatif untuk mengurangi kecemasan yang di terima oleh klien.
i. Peningkatan Koping.
j. Dukung penggunaan mekanisme defensif yang tepat.
k. Dukung keterlibatan keluarga dengan cara yang tepat.
l. Bantu pasien untuk mengidentifikasi strategi positif untuk mengatasi
keterbatasan dan mengelola gaya hidup atau perubahan peran.

D. Evaluasi
1. Tanda-tanda vital dalam batas normal.
2. Klien tidak nampak edema atau berkurang.
3. Pasien mengatakan nyeri berkurang.
4. Pasien mampu istirahat tidur.
5. Klien mampu menggunakan strategi koping efektif.
6. Tidak ada manifestasi prilaku kecemasan.
7. Klien mampu menggunakan support sosial.

nNaaa ♥♥

aBout nNaa..,
mmm,, akhir na sekarang akuu dah bisa nikmatin semua perjuangan q,, gk da kata pantang menyerah degh.., sekolah mulai dari TK.. terus SD.. SLTP.. SMA dan terakhir ke perguruan tinggi rasa na seneng bgt.., bisa ngejalanin semua na dgn baikk,, akhir na bisa bikin ayah bunda sa bangga ma nNaa.., ♥♥


nNaa teruss berJuang.., dan bersyukurr hingga sekarang na bisa bantu semua orang yg ngerasa sakitt,, walau gk bisa ngurangin sakit'nya tapi nNaa harap dengan senyuman yang nNa kasih rasa sakit yang mereka rasain sa berkurang,, karena seutas senyum yang ikhlasdan menceriakan itu adalah IBADAH...♥♥



nNaa jadi ingatt ma sahabat2 nNaa.,, kangenn sama merekaa,, ngejalaninn semua na bareng2 dan sekarang kami semua udah jalan masing - masingg.., ingat waktu dulu,, seminar bareng,, ngerjain tugas bareng,, hangout bareng,, gila2an bareng,, tapi sekarang nNaa gk bisa ngumpull lagi ma mereka karena itu,, nNaa pengen bangett ketemuu ma mereka,,
ah tapi ya udah lah gk papa kan km sekarang sudah punya jalan masing2 dan dalam doa kami.., kami sa jadi orang yang suksessss..., ♥♥

bLog negh sebenar na udah lama ada tapi malas ajah nulis disini ya karena m.a.l.a.s tadihhh :)
jadii di diemin ajah,, dan pada suatu ketika nNaa ge puyeng nyarii tugas tentang penyakit gituuh,, nyari nyari di situs situs macam2lah gak nemu juga (*sebenarnya nemu tapi gk kumpLit.., gk perfect gituuhh).., ya nNaa tetep nyariii.., (*pantang menyerah).., eehhh, nemuu blog punya kakaa tingka gituhh.., awalnya seh liat liat blog punya diaa ya dibaca2 gituhh (*mpe lupa ma tugass).., jadi terbersitt juga pengen punya bLog yg bisa bantu ade ade tingkat nNaa.. jadi nNaa harap bLog negh sa bantu anag2 kampus nNaa nyarii bahan referensinya..,
semoga bLog negh sa bantu siapa ajahh,, lo bLognya gk begitu sempurna mohon maaf eyahh,,, ♥♥